Hello, Useless Generation
Sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Di suatu malam saya bersama istri sedang menyusuri jalan pulang dari Batam Centre menuju rumah, sekitar pukul 1 dini hari. Di sepanjang jalan dari depan gedung wali kota, hingga Simpang Kabil, saya melihat banyak sekumpulan remaja yang duduk, nongkrong di pinggir jalan. Jika saya amati, hampir sebagian besar dari remaja tersebut masih berusia 14 - 18 tahun. Sedikit saja yang terlihat sudah berumur 20 tahunan ke atas.
Sesaat mereka menyalakan motor, lalu beradu kecepatan. Atau sekedar pamer ke kawannya, pamer motor baru atau sesuatu yang keren dari motornya. Atau mungkin cuma pamer helm baru. Yang jelas, apa yang mereka pamerkan sudah pasti bukan hasil keringatnya. Apa hebatnya memamerkan pembelian orang tua di umur segitu ? Keren, oh tidak. Jelas tidak keren.
Situasi di atas, hanya 1 dari banyak contoh gejala adanya suatu generasi yang sedang tumbuh, Useless Generation. Generasi yang sia - sia, generasi yang tidak berguna.
Tipikal “anggota” dari generasi ini tidak selalu bodoh atau kurang cerdas. Bahkan sebagian di antaranya sangat cerdas, namun tidak disertai pemahaman mengenai respek terhadap sesama, bahkan orang yang lebih tua sekalipun. Mungkin mereka ingin mencontoh budaya barat yang menurut mereka asik, meskipun sebenarnya mereka meniru budaya asing hanya sebagian, hanya bagian yang enak saja.
Generasi yang tidak berguna ini terkadang mempunyai sudut pandang yang aneh, kolokan atau bisa dibilang ridiculous. Salah satunya memandang aspek kehidupan yang dinamakan kedewasaan. Tidak jarang bagi mereka, dewasa = lepas masa SMA/K. Tapi jika apa yang mereka pikirkan itu benar, lihat saja. Sudah lulus SMA masih juga jadi parasit di rumah orang tua mereka. Sudah dikuliahkan, minta mobil, minta motor, minta ini, minta itu. Selesai kuliah pun masih ingin jadi parasit juga.
Useless generation ini tidak kenal umur, malah ada yang berumur 25 tahun masih masuk generasi ini juga. Belum sadar. Berfantasi ketika dia bangun dan berumur 26 tahun, dunia jadi miliknya. Punya mobil kelas atas, dengan uang tak berseri di bagasinya. Tak heran, yang begini ini sebagian udah diposkan oleh kerabatnya untuk jadi pegawai honorer pemerintah (dan kemudian berharap ada SK mundur pengangkatan PNS.). Atau jika malas kerja, tetap “berkantor” di kamar dengan jam kerja yang tidak terbatas.
Useless generation bukan semata-mata soal kemandirian, namun bagaimana cara pandang yang lemah terhadap kenyataan hidup dan masa depan, yang membuat mereka tidak lagi dibutuhkan di lingkungannya. Malah terkadang kaum useless generation ini, merugikan orang-orang di sekitarnya karena kekonyolan pikirannya dan tindakannya.
Dan memang tidak semua anggota kaum ini alay seperti penonton bayaran di acara musik pagi pada salah satu stasiun swasta, justru kebanyakan dari mereka anti alay (meskipun tetap saja alay). Herannya setiap sikap dan perbuatan mereka selalu menunjukkan inkonsistensi mental. Hmm. mungkin masih labil atau memilih labil permanen.
Obatnya apa ? Tidak perlu periksa ke psikiater manapun. Itu tidak akan membantu. Bangun dan sadar bahwa yang dihadapinya adalah kehidupan yang tidak selalu happy ending dan memaksa diri untuk lebih berguna bagi masyarakat dan keluarganya, itu lebih penting. Jadi tidak ada ceritanya, kaum useless generation ugal-ugalan karena alasan broken home atau sejenis. Percayalah itu cuma kedok belaka.
Hello, Useless Generation. Mau apa lagi kamu ?