Beberapa saat yang lalu, saya dan keluarga pulang ke kampung halaman, kota tercinta, Malang. Menyusuri padatnya lalu lintas dan sampailah di bumi Arema ini. Bicara soal Malang, tentunya kita sering mengasosiasikan kota ini dengan Apel, Bakso dan tentunya Arema. Arek Malang, merupakan padanan frase dengan arti Anak Malang. Sebagai informasi, yang disebut Malang ini bukan terbatas pada kota Malang dan kabupatennya, namun termasuk daerah sekitarnya, seperti Batu.
Nama Arema memang sebelumnya tercatat pada sejarah kerajaan Singosari, ketika dipimpin Raja Kertanegara. Saat itu, Kertanegara mempunyai Patih hebat bernama Kebo Arema. Kehebatannya dalam menumpas berbagai pemberontakan, membuat namanya diabadikan untuk sebuah klub sepak bola terbesar, yang kemudian bertumbuhkembang sebagai tradisi di Malang Raya.
Tentang Arema, sebuah klub yang digemari hampir seluruh warga Malang Raya yang bahkan lebih populer ketimbang saudara tuanya, Persema Malang, banyak hal menarik di dalamnya. Arema dan Malang adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seperti Jakarta dengan Persija-nya.
Ketika anda mencoba menyusuri daerah Malang, dari kampung ke kampung. Tukang becak, ojek, supir angkot, pedagang, warga kampung, semua bicara Arema. Hal ini adalah bukti bahwa Arema bukanlah klub sepak bola semata, namun juga Tradisi, Budaya dan Warisan. Sehingga jangan heran, kapanpun dan dimanapun Arema berlaga, Aremania dan Aremanita siap membirukan stadion, bahkan termasuk saat melawat ke Surabaya, Persebaya, dimana banyak Aremania bilang, mereka adalah rival. Ini juga membuktikan slogan Aremania, “Kami tidak ke mana-mana, tapi kami ada di mana-mana”.